![[K-STAR 7] Persona Abadi Film Korea, Ahn Sung-ki [Magazine Kave=Park Su-nam]](https://cdn.magazinekave.com/w768/q75/article-images/2026-01-09/a97774b7-6795-4209-8776-c0d8968e9c3e.png)
Pada 5 Januari 2026 pukul 09.00, dunia perfilman Korea kehilangan salah satu pilar terbesarnya. Aktor Ahn Sung-ki, yang gelar 'aktor nasional' sangat melekat padanya, meninggal dunia pada usia 74 tahun di Rumah Sakit Soonchunhyang di Yongsan, Seoul. Berita kepergiannya bukan sekadar pengumuman kematian seorang selebriti. Ini adalah sinyal bahwa sejarah film Korea, yang tumbuh dari puing-puing setelah Perang Korea, telah menutup satu bab.
Di akhir tahun 2025, saat angin dingin musim dingin bertiup, ia terjatuh di rumahnya dan tidak pernah bangkit lagi. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan kanker darah yang dimulai pada 2019, dan pernah dinyatakan sembuh serta bertekad untuk kembali ke dunia film, rasa kehilangan yang dirasakan publik semakin mendalam. Ia tidak pernah melepaskan ikatan dengan film bahkan di tempat tidur rumah sakit, dan hingga saat kesadarannya memudar, ia masih membaca naskah dan bermimpi untuk kembali dengan mengatakan, "Waktu adalah obat."
Bagi pembaca luar negeri, nama Ahn Sung-ki mungkin terasa asing dibandingkan dengan bintang muda yang memimpin gelombang K-content baru-baru ini. Namun, ia adalah sosok yang telah menyiapkan tanah subur bagi film Korea untuk meraih prestasi seperti kemenangan Oscar untuk 〈Parasite〉 oleh Bong Joon-ho dan kesuksesan global 〈Squid Game〉. Ia memiliki keanggunan seperti Gregory Peck di Hollywood, kedekatan yang populer seperti Tom Hanks, dan spektrum akting seperti Robert De Niro.
Ia memulai karirnya sebagai aktor cilik pada tahun 1950-an dan telah melintasi hampir 70 tahun masa-masa penuh gejolak dalam masyarakat Korea hingga tahun 2020-an. Dari sensor di era kediktatoran militer, semangat gerakan demokrasi, perjuangan untuk melindungi film lokal melalui kuota layar, hingga akhirnya datangnya kebangkitan film Korea, Ahn Sung-ki selalu berada di pusat semua momen tersebut.
Artikel ini bertujuan untuk melihat sejarah modern Korea dan sejarah film melalui kehidupan seorang aktor bernama Ahn Sung-ki, serta menganalisis secara mendalam makna warisan yang ditinggalkannya bagi para pembuat film saat ini dan di masa depan.
Kabar tentang kesehatan Ahn Sung-ki pertama kali muncul sekitar tahun 2020. Setelah didiagnosis dengan kanker darah pada 2019, ia menghadapi perawatan dengan semangat yang kuat, dan pada 2020 dinyatakan sembuh. Namun, kanker itu kembali dengan gigih. Penyakit yang kambuh setelah enam bulan menyiksanya, tetapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahan di depan publik. Penampilannya yang tersenyum meski mengenakan wig dan wajahnya yang bengkak saat muncul di acara resmi menyentuh hati banyak orang.
Hari-hari terakhirnya tragis, tetapi juga merupakan perjuangan untuk menjaga martabatnya sebagai seorang seniman. Pada 30 Desember 2025, setelah mengalami henti jantung akibat makanan tersangkut di saluran napas, ia dibawa ke rumah sakit dan berada di ruang perawatan intensif selama enam hari di ambang hidup dan mati. Dan pada 5 Januari 2026, ia menutup matanya dengan damai di hadapan keluarganya.
Pemakaman Ahn Sung-ki diadakan sebagai 'pemakaman seniman' yang melampaui pemakaman keluarga. Ini adalah penghormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada individu yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan film Korea. Komite pemakaman yang diselenggarakan oleh Yayasan Seni dan Budaya Shin Young-kyun dan Asosiasi Aktor Film Korea terdiri dari tokoh-tokoh besar dalam dunia perfilman Korea.
Tempat pemakaman dipenuhi air mata. Terutama, aktor Park Joong-hoon, yang telah bekerja sama dengan almarhum dalam banyak karya seperti 〈Two Cops〉 dan 〈Radio Star〉, menyambut para pelayat dengan penuh rasa hormat dan menangis, "40 tahun bersama senior adalah berkah. Saya tidak bisa mengungkapkan kesedihan ini dengan kata-kata." Bintang dunia seperti Lee Jung-jae dan Jung Woo-sung dari 〈Squid Game〉 juga menjaga suasana duka di tempat persemayaman, mengantar perjalanan terakhir sang senior.
Pemerintah mengakui jasa almarhum dengan menganugerahkan 'Medali Kebudayaan Emas', penghargaan tertinggi yang diberikan kepada seniman budaya. Ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang melambangkan budaya Korea, lebih dari sekadar seorang selebriti.
Ahn Sung-ki lahir pada 1 Januari 1952 di Daegu, saat Perang Korea sedang berlangsung. Ayahnya, Ahn Hwa-young, adalah seorang produser film, dan lingkungan keluarga ini menjadi alasan ia secara alami terjun ke dunia perfilman.
Film debutnya adalah 〈Twilight Train〉 yang disutradarai oleh Kim Ki-young pada tahun 1957. Saat itu, usianya baru 5 tahun. Masyarakat Korea pasca perang dipenuhi dengan kemiskinan dan kekacauan, tetapi Ahn Sung-ki yang kecil di layar memberikan penghiburan bagi publik. Terutama dalam film masterpiece 〈The Housemaid〉 yang disutradarai oleh Kim Ki-young pada tahun 1960, ia berperan sebagai anak yang menjadi korban antara hasrat dan kegilaan orang dewasa, menampilkan akting yang halus yang sulit dipercaya untuk seorang aktor cilik. Pada periode ini, ia muncul dalam sekitar 70 film dan dikenal sebagai 'aktor cilik jenius'.
Ahn Sung-ki berhasil mengatasi tragedi yang dialami sebagian besar bintang cilik—gagal bertransisi menjadi aktor dewasa atau dilupakan oleh publik—dengan pilihan yang bijak. Saat memasuki sekolah menengah, ia dengan berani menghentikan aktingnya. Ini juga terkait dengan kondisi produksi film Korea yang buruk saat itu, tetapi yang terpenting adalah kesadarannya bahwa "tanpa mengalami kehidupan sebagai orang biasa, saya tidak bisa menjadi aktor yang baik."
Ia melanjutkan studi di Jurusan Bahasa Vietnam di Universitas Bahasa Asing Korea. Pemilihan jurusan ini dipengaruhi oleh situasi saat itu di mana Korea terlibat dalam Perang Vietnam. Meskipun pada tahun 1975, setelah Vietnam menjadi komunis, jalur karirnya terhalang, tetapi studi dan kegiatan teater selama masa kuliah memberinya pengetahuan humaniora yang kaya.
Setelah lulus dari universitas, ia dilantik sebagai perwira militer (ROTC) dan bertugas sebagai perwira artileri. Selama periode ini, ia menjalani kehidupan sebagai orang biasa dan tentara. 'Keaslian warga kecil' dan 'rasa kehidupan yang kuat' yang muncul dalam akting Ahn Sung-ki berasal dari hampir sepuluh tahun masa kosong ini. Ia meninggalkan hak istimewa seorang bintang dan masuk ke dalam masyarakat, sehingga ketika ia kembali di depan publik, ia dapat mewakili wajah mereka dengan baik.
Pada tahun 1980-an, Korea secara politik berada di bawah kediktatoran militer Chun Doo-hwan, tetapi secara budaya, ini adalah periode di mana energi baru mulai muncul. Kembalinya Ahn Sung-ki bertepatan dengan awal 'Korean New Wave'.
Film 〈A Day When the Wind Blows〉 yang disutradarai oleh Lee Jang-ho adalah karya monumental yang mengukuhkan Ahn Sung-ki sebagai aktor dewasa. Dalam film ini, ia berperan sebagai 'Deok-bae', seorang pemuda yang pindah dari desa ke kota dan bekerja sebagai pengantar makanan di restoran Cina dan asisten di barbershop.
Analisis: Pada saat itu, film Korea didominasi oleh melodrama yang melarikan diri dari kenyataan dan film yang didanai negara karena sensor. Namun, 'Deok-bae' yang diperankan Ahn Sung-ki menunjukkan gambaran tanpa henti dari generasi muda yang tertekan di tahun 80-an. Cara bicaranya yang terbata-bata dan ekspresi polosnya mewakili frustrasi publik yang tidak bisa berbicara di bawah rezim kediktatoran.
Dalam film 〈Mandala〉 yang disutradarai oleh Im Kwon-taek, ia berperan sebagai 'Beop-un', seorang biksu yang berlawanan dengan biksu yang terputus dari dunia.
Transformasi Akting: Ia mencukur rambutnya dan hidup seperti seorang biksu untuk mendalami perannya. Aktingnya yang terkontrol dan mendalam mendapat pujian di festival film internasional seperti Festival Film Internasional Berlin. Ini adalah contoh bahwa film Korea dapat memiliki kedalaman filosofis yang lebih dari sekadar melodrama.
Film 〈Chilsu and Mansu〉 yang disutradarai oleh Park Kwang-soo adalah salah satu karya yang paling tajam menangkap kontradiksi masyarakat Korea di tahun 80-an.
Plot dan Implikasi: Ahn Sung-ki berperan sebagai 'Mansu', seorang tukang papan yang terhalang untuk mengejar mimpinya karena ayahnya adalah seorang tahanan politik (komunis). Adegan terakhir di mana ia berteriak ke dunia dari atap gedung pencakar langit bersama pasangannya 'Chilsu' (Park Joong-hoon) dianggap sebagai salah satu akhir yang paling simbolis dalam sejarah film Korea.
Konteks untuk Pembaca Luar Negeri: Tahun 1988 adalah tahun di mana Olimpiade Seoul diadakan, menunjukkan kepada dunia bahwa Korea adalah 'negara modern'. Namun, film ini menyoroti pengucilan kelas pekerja dan tragedi negara terpecah yang tersembunyi di balik kemewahan Olimpiade. Teriakan mereka yang dilemparkan seperti lelucon di atap disalahartikan oleh kekuatan publik sebagai 'unjuk rasa anti-pemerintah' dan ditindak. Ini adalah komedi hitam yang tajam terhadap masyarakat otoriter yang tidak memiliki komunikasi.
Setelah demokratisasi di tahun 1990-an, sensor dilonggarkan dan modal dari perusahaan besar mengalir ke industri film, membawa kebangkitan film Korea. Ahn Sung-ki menempati posisi yang unik dengan bebas berpindah antara film seni dan film komersial selama periode ini.
Film 〈Two Cops〉 yang disutradarai oleh Kang Woo-suk adalah pelopor dan blockbuster film buddy Korea.
Karakter: Ahn Sung-ki berperan sebagai detektif senior yang korup dan licik, Jo, berpasangan dengan detektif pemula yang berpegang pada prinsip (Park Joong-hoon).
Makna: Akting komiknya yang melepaskan citra serius dan berat sebelumnya memberikan kejutan segar bagi publik. Kesuksesan film ini mengukuhkan posisinya sebagai 'aktor yang menjamin kesuksesan box office'.
Film 〈White War〉 yang disutradarai oleh Jeong Ji-young adalah salah satu film Korea pertama yang membahas PTSD (gangguan stres pasca-trauma) dari tentara yang berpartisipasi dalam Perang Vietnam.
Analisis Mendalam: Sebagai lulusan jurusan bahasa Vietnam dan generasi yang berpartisipasi, film ini sangat berarti baginya. Ia berperan sebagai penulis yang dihantui oleh kenangan perang, menggambarkan dengan tragis bagaimana perang menghancurkan jiwa individu. Meskipun pengiriman tentara ke Vietnam sering dipromosikan sebagai 'fondasi pembangunan ekonomi', Ahn Sung-ki mengungkapkan sisi mengerikan dari perang melalui film ini. Ia menerima Penghargaan Aktor Terbaik di Festival Film Asia-Pasifik, mendapatkan pengakuan internasional.
Film 〈Silmido〉 yang dirilis pada tahun 2003 adalah film Korea pertama yang melampaui 10 juta penonton, membuka era '10 juta'.
Latar Belakang Sejarah: Film ini menceritakan kisah tragis unit 684 (unit Silmido) yang dibentuk untuk infiltrasi Korea Utara tetapi ditinggalkan di tengah suasana rekonsiliasi antara utara dan selatan.
Peran Ahn Sung-ki: Ia berperan sebagai komandan pelatihan, Choi Jae-hyun, yang melatih anggota unit tetapi akhirnya terjebak dalam dilema untuk menembak mereka sesuai perintah negara. Kalimatnya, "Tembak aku dan pergi," menjadi ungkapan yang terkenal. Ia membuktikan bahwa meskipun di usia paruh baya, ia masih bisa menjadi pusat kesuksesan box office.
Dalam film 〈Radio Star〉 yang disutradarai oleh Lee Joon-ik, ia berperan sebagai manajer Park Min-soo yang setia menemani rockstar yang sudah redup, Choi Gon (Park Joong-hoon). Aktingnya yang tidak mencolok tetapi memberikan dampak mendalam dianggap sebagai peran yang paling mencerminkan kepribadian Ahn Sung-ki yang sebenarnya.
Alasan mengapa Ahn Sung-ki dihormati sebagai 'aktor nasional' bukan hanya karena kemampuan aktingnya. Ia mengabdikan hidupnya untuk melindungi hak-hak seniman dan tanggung jawab sosial. Dari akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an, selama proses negosiasi perjanjian investasi (BIT) dan FTA dengan Amerika Serikat, pemerintah Korea berusaha untuk mengurangi kuota layar (sistem wajib pemutaran film lokal). Menanggapi hal ini, para seniman film melawan dengan keras, dan Ahn Sung-ki selalu berada di garis depan.
Makna Aktivitas: Ahn Sung-ki, yang biasanya memiliki sifat tenang dan lembut, mengejutkan publik dengan tampil di protes jalanan mengenakan ikat kepala. Ia menyatakan, "Kuota layar bukanlah pertarungan untuk makanan, tetapi masalah kedaulatan budaya." Dalam menghadapi serangan blockbuster Hollywood, publik harus mengingat perjuangan gigih para seniman film, termasuk Ahn Sung-ki, yang memungkinkan film Korea untuk bertahan.
Pada akhir 2000-an, ketika pasar hak distribusi film terancam oleh unduhan ilegal, ia memimpin 'Kampanye Pengunduh Baik' bersama Park Joong-hoon. Ia mengundang bintang-bintang untuk merekam video promosi tanpa bayaran, dan meminta publik untuk "membayar harga yang pantas dan menikmati konten sebagai cara untuk menyelamatkan budaya." Kampanye ini memainkan peran penting dalam mempromosikan budaya konsumsi konten digital di Korea.
Ahn Sung-ki telah menjadi duta UNICEF sejak 1993, memimpin upaya untuk membantu anak-anak miskin di seluruh dunia selama lebih dari 30 tahun.
Keaslian: Ia bukan sekadar duta promosi. Ia secara langsung mengunjungi daerah konflik dan lokasi kelaparan di Afrika dan Asia untuk melakukan kegiatan sukarela. Komite UNICEF Korea menyatakan belasungkawa yang mendalam atas berita kepergiannya, menyebutnya "tiang harapan yang kuat bagi anak-anak di seluruh dunia."
Setelah kepergiannya, komunitas online dan media sosial dipenuhi dengan kisah-kisah baik tentang dirinya. Ini adalah bukti betapa luar biasanya ia sebagai seorang pribadi. Salah satu cerita yang paling menarik perhatian adalah tentang apartemen mewah 'Hannam The Hill' di Hannam-dong, Seoul, tempat ia tinggal. Menurut kesaksian seorang netizen, Ahn Sung-ki setiap akhir tahun mengundang semua staf kantor manajemen apartemen, petugas keamanan, dan petugas kebersihan ke hotel untuk makan bersama.
Detail: Ia tidak hanya membayar uang. Ahn Sung-ki mengenakan jas, sementara istrinya mengenakan hanbok, menyambut setiap staf di pintu masuk dengan rasa terima kasih dan mengambil foto kenangan. Ini menunjukkan filosofi hidupnya yang menghargai setiap orang tanpa memandang status sosial.
Penyanyi Bada mengenang bahwa Ahn Sung-ki selalu memperhatikannya dengan hangat, baik di gereja maupun di tempat memancing, dan mengatakan, "Saya bisa merasakan kehangatan sejati seorang dewasa." Ok Taec-yeon dari 2PM tidak akan pernah melupakan bagaimana, meskipun ia adalah senior, Ahn Sung-ki selalu mendekatinya dengan senyuman untuk meredakan ketegangan saat syuting film 〈Hansan: Rising Dragon〉. Ia adalah aktor yang tetap berada di lokasi syuting meskipun tidak ada bagian untuknya, menjaga suasana bersama staf dan junior.
Selama hampir 70 tahun berkarir di dunia hiburan, Ahn Sung-ki tidak pernah terlibat dalam satu pun skandal atau kontroversi. Manajemen diri yang ketat dan moralitasnya adalah kekuatan terbesar yang menjadikannya 'aktor nasional'. Ia menghindari penampilan iklan untuk mencegah citranya menjadi overexposed, dan dengan tegas menolak tawaran dari dunia politik, hanya mengikuti jalan sebagai seniman film.
Kepergian Ahn Sung-ki meninggalkan kekosongan besar yang tidak dapat diisi dalam dunia perfilman Korea. Ia bukan sekadar seorang aktor. Ia adalah teman seperjalanan yang telah berjalan bersama film Korea melalui jalan penuh kesulitan dan kemuliaan, menjadi kompas bagi para junior, dan teman yang dapat dipercaya oleh publik.
Bagi pembaca luar negeri, Ahn Sung-ki adalah kunci untuk memahami kedalaman dan luasnya film Korea. DNA para aktor Korea yang saat ini memikat dunia, seperti Song Kang-ho dari 〈Parasite〉, Choi Min-sik dari 〈Oldboy〉, dan Lee Jung-jae dari 〈Squid Game〉, semuanya terukir dengan gen Ahn Sung-ki.
Ia pernah berkata, "Saya ingin menjadi aktor yang tumbuh bersama penonton." Dan ia menepati janji itu. Sebagai aktor yang selalu berakting dengan rendah hati, mengarahkan perhatian kepada orang lain daripada duduk di puncak sebagai bintang yang bersinar. Musim dingin 2026, kita telah mengantarnya pergi, tetapi lebih dari 180 film yang ia tinggalkan dan kemanusiaan yang ia tunjukkan akan selamanya bersinar di layar dan di luar layar.
"Selamat tinggal, aktor nasional. Dengan adanya Anda, film Korea tidak merasa kesepian."

