Mengapa Orang Korea Memberikan SPAM sebagai Hadiah Saat Chuseok

masukan:
SUNAM PARK
By TAMAN SUNAM Pemimpin Redaksi

Di dalam kalengnya ada ham, tetapi di dalam kotaknya tersimpan sejarah modern Korea.

Pada pekan-pekan menjelang Chuseok, supermarket-supermarket Korea mengubah kaleng SPAM biasa menjadi hadiah resmi untuk hari raya, menatanya dalam kotak kemasan untuk keluarga, kolega, dan rekan bisnis. [Magazine Kave]
Pada pekan-pekan menjelang Chuseok, supermarket-supermarket Korea mengubah kaleng SPAM biasa menjadi hadiah resmi untuk hari raya, menatanya dalam kotak kemasan untuk keluarga, kolega, dan rekan bisnis. [Magazine Kave]
Oleh Park Sunam

Bagi orang asing, memasuki hypermarket di Korea menjelang Chuseok berarti berhadapan dengan pemandangan yang agak asing. SPAM berbentuk kotak yang biasanya berada di rak lauk-pauk tiba-tiba menempati bagian terdepan toko ketika musim Chuseok mendekat, dipajang secara mewah dalam kotak-kotak berwarna keemasan.

Di Amerika Serikat, SPAM kuat diasosiasikan dengan makanan kaleng yang murah dan praktis. Namun di Korea, ketika hari raya tiba, produk itu berubah menjadi “hadiah yang pantas” untuk diberikan kepada orangtua, kerabat, dan rekan kerja.

Lantas, mengapa orang Korea memberikan SPAM sebagai hadiah saat Chuseok?

Jawaban singkatnya, bukan karena orang Korea menganggap SPAM sebagai barang mewah. Dalam paket hadiah SPAM tersusun lapis demi lapis kisah perang dan kemiskinan, kekaguman terhadap Amerika Serikat, industrialisasi, gengsi hari raya, serta pragmatisme masa kini. Di dalam kalengnya ada ham, tetapi di dalam kotaknya tersimpan sejarah modern Korea.

Makanan murah Amerika, “cita rasa Amerika” yang langka di Korea

SPAM diluncurkan pada 1937 oleh Hormel Foods, perusahaan pengolahan daging asal Minnesota, Amerika Serikat. Karena mudah disimpan pada suhu ruang dan diangkut dalam jumlah besar, SPAM banyak dipasok sebagai makanan militer pasukan Sekutu selama Perang Dunia II. Menurut catatan resmi Hormel, lebih dari 100 juta pon SPAM dikirim ke luar negeri hingga 1941.

Perang memberikan label kelas yang sama sekali berbeda pada makanan kaleng yang sama.

Di daratan Amerika Serikat, SPAM mulai dipandang sebagai makanan jatah perang sekaligus makanan murah bagi kaum pekerja. Sebaliknya, di Korea dan Hawaii, tempat kekuatan militer Amerika Serikat hadir, produk itu merupakan barang berharga yang sulit diperoleh.

Makalah peneliti Universitas Yonsei Lee Yoo-jung yang diterbitkan pada 2025 dalam jurnal 《Kajian Sejarah dan Budaya Dunia》 menelusuri pembalikan ini dari perspektif “militerisasi SPAM”. Menurut penelitian tersebut, pasar gelap untuk barang-barang militer Amerika Serikat telah terbentuk di Seoul sekitar 1946, setelah Korea merdeka, dan skalanya membesar pesat setelah Perang Korea. SPAM yang mengalir keluar dari PX dan jaringan pasokan militer Amerika Serikat merupakan barang langka yang hanya dapat diakses oleh tentara, perantara, dan konsumen perkotaan yang memiliki uang tunai.

Orang kerap menjelaskan bahwa “SPAM masuk ke Korea saat Perang Korea”. Namun, penjelasan yang lebih tepat adalah bahwa peredarannya sudah dimulai pada masa pemerintahan militer Amerika Serikat, sedangkan Perang Korea membuat keberadaannya dikenal luas di seluruh negeri.

Kaleng yang sama menjadi makanan perang murah di Amerika Serikat, tetapi berubah menjadi makanan yang melambangkan kemakmuran dan modernitas di Korea. Saat itu, nilai SPAM tidak ditentukan oleh kualitas daging babinya, melainkan oleh “siapa yang bisa mendapatkannya”.

Jejaknya juga tertinggal dalam budae jjigae. Hidangan ini memasak bahan makanan militer Amerika Serikat seperti sosis, ham, dan kacang kaleng bersama gochujang, kimchi, dan bawang putih. Budae jjigae bukan sekadar makanan hasil perpaduan budaya. Hidangan itu merupakan cara bertahan hidup dengan mengubah perbekalan militer asing menjadi santapan ala Korea.

Namun, masih ada satu tahap antara daging yang disantap di pasar gelap dan paket hadiah Chuseok. SPAM harus terlahir kembali dari “makanan tentara Amerika Serikat” menjadi “lauk orang Korea”.

1987, ketika SPAM memperoleh status sebagai lauk nasi khas Korea

CJ CheilJedang menjalin kerja sama teknologi dengan Hormel pada 1986 dan mulai memproduksi SPAM di dalam negeri pada 1987. Menurut data perusahaan, penjualan pada tahun pertama produksi lokal mencapai sekitar 500 ton. Setelah itu, SPAM dengan cepat melampaui produk luncheon meat yang sudah ada.

Perubahan paling menentukan adalah penempatan SPAM bukan sebagai ham ala Barat, melainkan sebagai lauk di meja makan Korea.

Slogan iklan yang muncul pada 2002, “sepotong SPAM di atas nasi hangat”, menunjukkan strategi tersebut secara tepat. SPAM tidak lagi diterjemahkan sebagai ham kaleng ala Amerika yang dimasukkan ke dalam roti atau diletakkan di samping telur untuk sarapan, melainkan sebagai lauk asin yang disantap di atas nasi putih.

Ini bukan sekadar penerjemahan iklan. Langkah itu merupakan semacam naturalisasi budaya dengan menempatkan kembali makanan asing ke dalam struktur santapan Korea. SPAM bukan lagi perbekalan Amerika Serikat yang diam-diam mengalir keluar dari PX. Produk itu menjadi makanan yang akrab, dapat dibeli di supermarket sekitar rumah, dimasukkan ke dalam sup kimchi, dan diberikan kepada anak bersama semangkuk nasi.

Hingga paruh pertama 2024, penjualan kumulatif SPAM sejak mulai diproduksi di dalam negeri telah melampaui 2,07 miliar kaleng. SPAM berpindah dari barang langka pada masa Perang Korea menjadi “lauk nasional”.

Namun, bagaimana lauk nasional itu berubah menjadi hadiah hari raya?

Dahulu, hadiah kelas atas adalah satu karung gula seberat 6 kilogram

Hadiah hari raya selalu menunjukkan barang yang berharga pada zamannya.

Pada 1950-an dan 1960-an, bahan makanan seperti gula, tepung, dan penyedap rasa merupakan hadiah yang populer di Korea. Kini barang-barang itu dapat dimasukkan begitu saja ke keranjang belanja, tetapi setelah perang, semuanya merupakan komoditas berharga yang benar-benar meningkatkan kualitas makanan keluarga.

Katalog hadiah yang dibuat Shinsegae Department Store menjelang Chuseok 1965 memuat 96 produk. Saat itu, satu karung gula seberat 6 kilogram termasuk hadiah mewah. Itulah masa ketika gula menjadi cara paling manis untuk mengungkapkan kasih sayang.

Ketika pertumbuhan ekonomi dimulai pada 1970-an, hadiah bergeser dari kebutuhan pokok ke barang konsumsi. Makanan ringan, kosmetik, kemeja, dan kopi instan mulai muncul. Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, tuna dan ham kaleng menjadi bagian utama dari hadiah hari raya.

Penelitian Kim Ye-ji dan Jung Ra-na yang melakukan penambangan teks terhadap artikel surat kabar mengenai hadiah makanan hari raya dari 1930 hingga 2022 juga mengonfirmasi bahwa perubahan hadiah hari raya berkaitan erat dengan kondisi ekonomi dan perubahan persepsi konsumsi pada setiap zaman.

Karena itu, paket hadiah SPAM bukan tradisi Korea yang aneh dan muncul tiba-tiba. Produk ini meneruskan garis keturunan “makanan yang membuat kehidupan sedikit lebih sejahtera”, yang sebelumnya bergerak dari gula ke penyedap rasa, lalu dari kopi ke makanan kaleng.

Jika paket hadiah hari raya Korea disusun secara kronologis, hasilnya akan menyerupai museum kecil sejarah ekonomi.

Gula menunjukkan zaman kelangkaan, kopi menandai awal masyarakat konsumsi, sedangkan SPAM mencerminkan industrialisasi dan kemunculan kelas menengah. Hanwoo, makanan kesehatan, dan voucher seluler yang populer belakangan ini menggambarkan Korea masa kini, ketika kesehatan, selera, dan kemudahan menjadi semakin penting.

Rahasia SPAM: “Kotaknya untuk gengsi, isinya untuk kepraktisan”

Alasan paling realistis paket hadiah SPAM mampu bertahan selama puluhan tahun adalah karena produk itu memuaskan pemberi dan penerima hadiah sekaligus.

Bagi pemberi, dibutuhkan kemasan yang tidak terlihat murahan dan merek yang dikenal semua orang. Bagi penerima, diperlukan barang yang tidak akan dibuang dan benar-benar dapat digunakan. SPAM berada tepat di antara kedua syarat tersebut.

Kemasan keemasan dan kaleng-kaleng yang tersusun rapi menjaga gengsi sebuah hadiah. Sementara itu, isinya dapat disimpan lama pada suhu ruang, mudah dimasak, dan disantap sedikit demi sedikit.

Singkatnya, begini.

Kotaknya untuk gengsi, kalengnya untuk kepraktisan.

Penjelasan ini juga sejalan dengan penelitian konsumen. Menurut penelitian mengenai perilaku pemberian hadiah yang diterbitkan dalam 《Journal of Consumer Research》, pemberi hadiah cenderung lebih mementingkan nilai abstrak seperti daya tarik atau keistimewaan. Sebaliknya, penerima hadiah cenderung lebih mengutamakan kemudahan penggunaan dan kepraktisan. Penelitian itu memang tidak secara khusus mengkaji SPAM, tetapi memberikan petunjuk berguna untuk menjelaskan mengapa hadiah makanan yang praktis dapat bertahan lama.

Dalam survei terhadap 1.000 konsumen dewasa yang dilakukan Kamar Dagang dan Industri Korea pada 2024, “nilai sepadan dengan harga” juga menjadi kriteria terpenting dalam memilih hadiah Chuseok di semua kelompok usia. Tingkat responsnya mencapai 68,2 persen. Sebanyak 55,4 persen responden mengatakan bahwa mereka berencana mengeluarkan paling banyak 50.000 won untuk setiap hadiah.

Buah menjadi pilihan teratas dengan 43,8 persen, disusul makanan kesehatan dengan 32,4 persen dan daging dengan 30,5 persen. Makanan olahan, termasuk SPAM dan tuna, berada di peringkat keempat dengan 22,2 persen. Makanan olahan memang tidak lagi menjadi pilihan yang dominan, tetapi tetap merupakan hadiah utama yang disukai lebih dari satu dari setiap lima orang.

Menurut angka yang disampaikan CJ CheilJedang, sebanyak 58 persen penjualan tahunan SPAM pada 2024 terjadi selama Seollal dan Chuseok. Data tersebut memang berasal dari penjualan yang disediakan perusahaan, tetapi jelas menunjukkan bahwa hubungan SPAM dengan hari raya Korea bukan sekadar kesan belaka.

Hadiah bukan membungkus barang, melainkan hubungan

Namun, menjelaskan popularitas SPAM hanya dari segi nilai sepadan dengan harga berarti baru menyentuh separuh persoalan.

Dalam penelitian mengenai pertukaran hadiah yang diterbitkan pada 2024 di 《Korea Journal》, Profesor Kim Dong-no dari Universitas Yonsei tidak memandang hadiah sekadar sebagai perpindahan barang. Menurutnya, hadiah merupakan tindakan sosial yang membangun kepercayaan dan solidaritas, pengakuan timbal balik, serta harapan akan balasan. Nilai sebuah hubungan yang tidak dapat dihitung dengan label harga ditambahkan ke dalam barang tersebut.

Hal yang sama berlaku untuk hadiah hari raya di Korea. Hadiah Chuseok merupakan tanda bahwa “Anda tidak dilupakan”, sekaligus salam diam-diam bahwa hubungan akan terus dijaga.

Hadiah yang terlalu mahal dapat membebani penerima, sedangkan hadiah yang terlalu murah bisa terlihat tidak tulus. Paket hadiah SPAM menjadi pilihan yang relatif aman di batas yang serba sulit itu. Harganya beragam, jarang ada orang yang tidak mengenal mereknya, dan kemungkinan besar dapat disantap oleh anggota keluarga mana pun.

Harganya tidak semahal hanwoo, tetapi juga tidak terlihat seringan mi instan dalam kantong. SPAM tidak seterus terang uang tunai, sementara kemungkinan salah pilihnya lebih rendah dibandingkan kosmetik atau minuman beralkohol yang sangat bergantung pada selera.

SPAM bertahan bukan karena merupakan “hadiah terbaik”, melainkan karena merupakan hadiah yang jarang gagal.

Dulu makanan militer, kini berbalut Pokémon

Pada Chuseok 2026, SPAM kembali berubah.

CJ CheilJedang meluncurkan total 260 jenis paket hadiah untuk menyambut Chuseok tahun ini. Paket hadiah SPAM dipadukan dengan kekayaan intelektual karakter seperti Kakao dan Pokémon, serta dilengkapi gantungan kunci dan stiker untuk menyasar “kesenangan mengoleksi” konsumen muda.

Pemandangan kaleng yang dahulu diperdagangkan di pasar gelap perbekalan militer Amerika Serikat, 80 tahun kemudian dijual sebagai hadiah hari raya dengan balutan karakter Pokémon, terasa ganjil sekaligus simbolis.

SPAM merupakan daging yang sulit diperoleh pada masa kemiskinan, simbol kemakmuran dan modernitas pada era industrialisasi, serta produk yang kini merangkum harga, kepraktisan, merek, dan kesenangan dalam satu kotak.

Makna SPAM berubah setiap kali zaman berganti. Namun, satu hal tetap bertahan: janji untuk membuat meja makan seseorang sedikit lebih berlimpah.

Jadi, mengapa orang Korea memberikan SPAM sebagai hadiah saat Chuseok?

Halaman resmi SPAM milik Hormel di Amerika Serikat menjelaskan bahwa komposisi SPAM Classic terdiri atas daging babi dan ham, garam, air, tepung kentang, gula, serta natrium nitrit.

Namun, paket hadiah Chuseok di Korea mengandung satu bahan tambahan yang tidak tercantum dalam label komposisi.

Sejarah.

Di dalam kotak yang sama bertumpuk kenangan tentang perjalanan melintasi Pasifik bersama tentara Amerika Serikat selama perang, kemiskinan yang mendambakan perbekalan PX, generasi yang menganggap nasi putih dan lauk daging sebagai kemakmuran, para pekerja kantoran era industrialisasi yang membawa hadiah dengan kedua tangan saat pulang ke kampung halaman, serta konsumen masa kini yang mempertimbangkan kepraktisan dan nilai sepadan dengan harga.

Orang Korea memberikan SPAM sebagai hadiah saat Chuseok bukan semata-mata karena ham kaleng merupakan makanan mewah. Alasannya, SPAM telah lama memadatkan gagasan “kemakmuran” yang dibentuk masyarakat Korea dalam wujud yang kecil dan kokoh.

Ketika tutupnya dibuka, ham akan terlihat.

Namun, jika kotak itu dibuka dan dipahami dengan saksama, yang muncul adalah 80 tahun sejarah Korea.

Bahan liputan dan referensi utama

×
링크가 복사되었습니다